Senin, 24 April 2017

Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil 'Aqaidu wal Ahkami Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani


Mukaddimah



Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan serta ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan keburukan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh-Nya maka tiada yang mampu menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tiada yang mampu memberikannya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.
Allah ta’ala berfirman:
يَأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقُّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
يَأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَلَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوبُكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar, Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia Telah mendapat kemenangan yang besar.
                                         
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Adapun sejelek-jelek urusan adalah sesuatu yang diada-adakan dan segala yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Pada saat ini banyak terdapat aliran-aliran kekafiran dan kesesatan yang berusaha untuk memalingkan umat Islam dengan tongkatnya serta berupaya untuk menjerumuskan mereka ke dalam nihilisme dan kebingungan. Selain itu ditengah-tengah gencarnya upaya dari budak-budak Jahiliyyah dalam mengumpulkan segenap kemampuan mereka dan mengumpulkan tentara-tentaranya guna memutuskan urat nadi akidah kaum muslimin, mereka dengan berusaha mengubur Islam dari kehidupan mereka. Namun disana masih terdapat setitik cahaya dan sekeping cita-cita dari sekumpulan orang-orang shalih (yang terus mengamati situasi ini). Mereka berupaya untuk terus merangkak, bergerak dan mencari celah untuk menghadapi dasyatnya gempuran tersebut, guna menyelamatkan umat dan bangsa ini dari pengaruh dan bahaya yang ditimbulkannya.
Tidaklah kekuatan itu melainkan ibarat tunas pepohonan yang sedang tumbuh serta bunga-bunga yang sedang merekah disana-sini. Mereka sekelompok pemuda-pemuda muslim yang mulai membuka mata mereka akan kenyataan hidup yang mereka hadapi yang terbangun atas teriakan da’i serta penyeru kebaikan yang tidak henti-hentinya berupaya untuk membangkitkan rasa cemburu agama dan mempertahankannya, menanamkan keteguhan beragama dan jiwa yang tidak ingin dihina. Para pemuda-pemuda itu berupaya untuk membangkitkan umat yang telah lama berada dalam keterpurukan. Mereka berusaha untuk menyelamatkan umat dari kekejian musuh dan bahaya yang mengancamnya, mereka berusaha dengan serius serta penuh keiklasan.
Namun mereka tiba-tiba disentakkan oleh kenyataan yang sangat sukar untuk diterima bahwa ternyata mereka tidak bergeming dari posisi mereka (setelah perjuangan panjang dan melelahkan yang mereka tempuh), mereka kembali ke tempat ketika mereka memulai perjalanan. Mereka pun kecewa dan bersedih bahkan sebagian dari mereka putus asa, namun sebagian lagi terus mencoba dan mencoba, meskipun mereka yakin bahwa upaya mereka itu tidaklah sebagus yang sebelumnya. Hal ini berulang terus-menerus.
Beginilah keadaan dari para dai di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada zaman ini. Kebingungan, keruwetan dan ketidakteraturan serta usaha yang tidak membawa hasil senantiasa menghantui mereka. Mereka tidak menemui jalan yang benar, mereka tidak mendapatkan seorang yang pandai, yang mampu membebaskan mereka dari kebingungan, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menjadikan usaha-usaha mereka sebagai usaha yang membuahkan hasil yang didamba-dambakan.
Ketahuilah, tidaklah ada jalan yang benar melainkan dengan jalan al-Qur'an dan as-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para salafush shalih tentang keduanya, berdakwah (menyeru) kepada keduanya serta konsisten atas keduanya. Mereka mencari para ulama yang berpegang teguh terhadap al-Qur'an maupun as-Sunnah yaitu mereka yang senantiasa beramal dengan keduanya, yang iklas dan senantiasa menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai pedoman mereka.
Sungguh sia-sia segala upaya yang dikerahkan oleh seorang pemuda muslim untuk menyelamatkan harga diri kaum muslimin bila tanpa berlandaskan dengan jalan yang benar tersebut, tanpa tntunan dari para ulama sejati.
Untuk itu, merupakan sebuah karunia yang besar tatkala Allah Ta’ala berkenan menganugerahkan kepada kami seorang ulama sejati yang tersisa dari ulama-ulama terdahulu. Beliau telah membimbing kami dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah, Allah Ta’ala telah menunjukkan kami tentang kebenaran yang diperselisihkan oleh umat-umat sebelumnya, dengan perantaraannya. Beliau telah menunjukkan kepada kami sebuah harta karun yang sangat mahal dan berharga yang mana harta karun tersebut terpendam di dalam lembaran-lembaran kitab suci al-Qur'an dan sentuhan-sentuhan dari sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Akhirnya kami merasakan sebuah kesejukan dan kedamaian yang menyelimuti kami setelah sekian lama kami dirundung kepayahan dan kesusahan. Kami mendapatkan kepuasan yang sempurna dan pemahaman yang benar, setelah sekian lama kami bergelut di dalam kebingungan dan ketidaktahuan.
Untuk itu, kami memandang bahwa secara umum hal itu merupakan kewajiban kami kepada umat Islam dan khususnya kepada para pemuda. Sudah seharusnya untuk membimbing mereka kepada cahaya yang telah Allah tunjukkan kepada kami, agar kami pada akhirnya berjalan bersama, saling bergandengan tangan, tolong-menolong untuk menuju jalan keselamatan, menjauh dari jurang kehancuran dan hanya kepada Allah lah kami berharap taufik dan pertolongannya.
Oleh karena itu pulalah kami senantiasa berkeinginan untuk terus menambah wawasan kaum muslimin dengan segala macam ilmu yang bermanfaat bagi mereka, sehingga mampu menampakkan Islam yang benar, gamblang dan bersih dari segala macam kotoran. Juga dilengkapi dengan dalil-dalil dari setiap permasalahan, sehingga mampu memberikan mereka pemahaman (dari buku-buku yang banyak referensinya), menjauhkan mereka dari peliknya perselisihan pendapat para ulama, mampu menyatukan visi dan misi yang berakhir pada terciptanya persamaan rasa, kekompakan dalam beramal dan berjihad untuk menyeru agama ini, serta menjadikannya langgeng di alam semesta.
Kami berharap buku-buku serta risalah-risalah ini dapat menjadi batu pijakan dalam meniti ilmu yang benar dan menjadi metode berfikir yang kuat bagi para dai. Oleh karena itu, kami menyuguhkan kepada para pemikir Islam, ulama maupun para dai agar mereka turut berpartisipasi serta menanamkan sahamnya. Kami akan senantiasa menyambut dengan penuh kelapangan segala kritik maupun saran yang membangun dan memenuhi tiga kriteria:
  1. Hendaklah kritikan itu disampaikan dengan iklas dan senantiasa didasari oleh keinginan saling menasihati untuk meraih kebenaran
  2. Hendaknya kritikan maupun saran itu, senantiasa berlandaskan kepada dua asas utama, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah
  3. Hendaknya dalam menyampaikan kritik maupun saran itu, dilakukan dengan memperhatikan adab-adab Islami yang luhur; disampaikan dengan metode yang ilmiah dengan tidak disertai oleh sikap sombong, membanggakan diri dan tidak merendahakan seseorang terkecuali terhadap seorang yang zhalim, berlaku buruk, dan pendusta.
Risalah yang kami ketengahkan ini adalah risalah yang disusun oleh ustadz kami, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dengan judul al Hadits Hujjatun Binafsihi fil Aqaid wal Ahkam yang merupakan materi ceramah yang beliau sampaikan dalam acara Muktamar Mahasiswa Muslim yang berlangsung di kota Granada-Spanyol, pada bulan Rajab tahun 1392 H yaitu tahun 1972 M.
Di dalam risalah ini penulis telah berbicara tentang sikap seorang muslim yang benar terhadap sunnah, kedudukannya dana hujjahnya (keabsahannya sebagai dalil). Penulis telah membagi risalah ini menjadi empat pasal yaitu sebagai berikut:
Pertama, Penulis mengulas tentang kedudukan as-Sunnah di dalam Islam, kewajiban kaum muslimin untuk menjadikannya sumber dalam berhukum, dan peringatan bagi yang melanggarnya
Kedua, Membahas tentang pemahaman yang batil dari usaha kaum khalaf (ulama yang datang belakangan) dalam mengingkarinya. Juga menjelaskan ketidakautentikannya dalil mereka yang mendahulukan qiyas dan beberapa kaidah ushuliyyah yang mereka pakai dan usaha untuk membuang sunnah karena dengannya.
Ketiga, Pengkhususan dengan menguraikan bantahan terhadap kaidah yang dipopulerkan oleh beberapa dai pada saat ini, yang menukil perkataan beberapa ulama kalam yang terdahulu, yang disebarkan oleh para ulama sekarang ini, yaitu kaidah tentang (tidak sahnya hadits ahad yang dijadikan sumber di dalam masalah akidah). Juga menjelaskan tentang kesalahan orang yang mempunyai gagasan kaidah tersebut, sebab hal demikian itu, mereka menjadikan hadits-hadits terbagi menjadi dua bagian. Hadits tentang akidah dan hadits tentang hukum tanpa didukung oleh dalil yang benar dan jelas, hal itu hanya sangkaan dan khayalan mereka.
Hal yang harus diperhatikan dalam masalah ini, yaitu penulis tidak mengulasnya secara panjang lebar, karena telah diterangkan sebelumnya (oleh penulis secara gamblang) dengan menyebutkan banyak dalil yang mungkin dapat mematahkan kebatilan pemikiran mereka tersebut. Penulis telah mengkhususkan sebuah risalah tersendiri dengan judul Haditsul Ahad wal Aqidah. Risalah ini merupakan materi ceramah beliau di hadapan para pemuda di Damaskus pada lima belas tahun yang lalu. Ceramah tersebut mendapatkan sambutan yang sangat positif dan berhasil melemahkan perkembangan pemikiran tersebut serta mematahkan segala dalih pendukung-pendukungnya di tengah para cendekiawan muslim di negera itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kami untuk memperbanyak risalah tersebut dalam waktu dekat, Insya Allah.
Keempat, Pasal yang terakhir di dalam risalah ini, beliau menjelaskan suatu masalah yang amat berbahaya, yang akan memudarkan cahaya sunnah di kalangan umat manusia. Hal tersebut akan berakibat terhadap penghapusan sunnah di dalam tingkah laku sehari-hari mereka. Masalah yang dimaksud adalah masalah taqlid yang telah mewabah di setiap pelosok kehidupan kaum muslimin pada setiap zaman. Hal itu telah merasuk ke dalam jiwa dan pemikiran kaum muslimin yang telah mematikan semangat berfikir umat, selain itu juga mengharamkan mereka dari petunjuk Allah dan menghalangi mereka untuk mengambil manfaat yang baik dari petunjuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Semua itu semata-mata bersumber dari taklid yang dilakukan kepada para ulama, yang mereka pun tidak pernah ridha akan hal itu. Para ulama itu, tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridnya untuk taklid kepada mereka tanpa didasari oleh ilmu. Bahkan, mereka itu senantiasa menasihati para muridnya untuk tidak mendahulukan suatu asas atas al-Kitab maupun Sunnah Rasul-Nya baik itu berupa perkataan, pendapat maupun ijtihad dari ulama manapun. Mereka telah mengumumkan keterlepasan diri mereka dan kelapangan hati mereka, untuk kembali kepada kebenaran (baik di masa mereka hidup maupun setelah wafat mereka) dari segala perkataan, ijtihad maupun fatwa-fatwa mereka, yang berseberangan dengan al-Qur'an maupun as-Sunnah.
Akhir dari risalahnya, beliau menyeru kepada segenap pemuda muslim untuk senantiasa kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah dalam setiap urusan mereka supaya mereka terus berupaya untuk beramal guna membuktikan kesetiaan mereka. Dengan hal itu berarti mereka telah mengesakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di dalam al-ittiba (panutan), sebagaimana mereka telah mengesakan Allah di dalam beribadah. Dengan demikian mereka telah membuktikan dengan perbuatan mereka, dan bukan sekedar dengan perkataan syahadat yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. Mereka telah membuktikan syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah dengan amal dan bukan sekedar slogan Tauhid al-Hakimiyyah. Dengan hal ini pula, mereka telah mewujudkan generasi Qur'ani akan mewujudkan eksisnya sebuah negara Islam. Insya Allah.
Ceramah beliau ini telah mendapatkan sambutan hangat dari segenap penuntut ilmu yang mendengarkannya dengan seksama. Mereka juga mengirimkan permintaan kepada beliau agar memperbanyak naskah ceramahnya agar dapat dirasakan manfaatnya oleh segenap kaum muslimin yang berpegang teguh pada kebenaran.
Pada kesempatan ini pula, kami sampaikan bahwa ustadz kami (Syaikh Nashiruddin al-Albani) juga telah menyampaikan sebuah ceramah di Qatar tentang pentingnya sunnah dan kedudukannya di dalam memahami al-Qur'an. Semoga risalah ini dapat dicetak dalam waktu dekat. Insya Allah.
Kami juga telah meminta kepada ustadz kami untuk mengabulkan permintaan para penuntut ilmu untuk mencetak dan memperbanyak naskah ceramah beliau dan beliau telah menyetujui hal tersebut. Oleh karena itu kami membacakan ulang naskah tersebut kepada beliau, memperbaikinya dengan pengawasan beliau dan memberikan judul-judul kecil pada setiap fikrah (ide) yang penting, sebagai upaya untuk memudahkan pembaca dalam memahami isi dari buku ini.
Demikianlah dan di awal pembahasan ini, kami memandang perlu untuk menjelaskan musthalahat (istilah-istilah) yang berkaitan dengan pembahasan hadits-hadits di dalam buku ini.
Pada akhirnya kami berharap semoga risalah ini dapat memberikan manfaat kepada umat, dan semoga Allah Ta’ala memberikan pahala yang banyak kepada penulis, dan yang menyebarkan risalah ini. Hanya kepada-Nya kami mengharapkan taufik dan pertolongan.
                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar